Halaman

Jumat, 08 Januari 2021

I'm Back (Maybe?)

Setelah berhenti menulis di blog sejak tahun 2014 akhirnya saya balik lagi. 

Haha, 6 tahun lebih saya males nulis. Apa ya penyebabnya (selain rasa malas tentunya)? Mungkin dengan kemajuan tekonologi dan kemudahan dalam mengaksesnya, saya jadi punya banyak distraksi untuk menulis, ya. Sekarang ada instagram dan twitter, sosmed di mana saya bisa menumpahkan pemikiran singkat saya sampai beberapa kali dalam sehari (akhirnya gak butuh satu postingan khusus untuk menuangkan kata). Juga ada aplikasi dengan hiburan seperti Netflix, Gramedia Digital, Youtube, Spotify dan lain-lain yang membuat saya bisa mencari kesenangan selain menulis (duh) saat suntuk. Intinya memang saya gak meluangkan waktu aja sih untuk nulis.

Anyway, dalam 6 tahun ini sudah buanyaaaak sekali yang terjadi. Saya sudah lulus dari perkuliahan (yeay, no more student routine!). Saya juga sempat bekerja selama 1 tahun menjadi guru SD dan 3 tahun menjadi tutor di bimbingan belajar. Lalu saya juga sudah menikah tahun lalu (hehe). Tentu banyak detail lain yang terjadi di kehidupan saya, hanya sepertinya 3 itu aja deh yang jadi highlight selama 6 tahun terakhir.

Oh iya, sejak 2-3 tahun lalu saya juga mulai sedikit parno untuk membagikan detail dan identitas diri di internet karena banyak sekali modus kejahatan yang berawal dari pencurian data. Makanya beberapa tahun belakangan saya menyembunyikan blog ini dari pencarian publik. Begitulah.

Sekarang saya pikir saya akan mulai menulis lagi. Sejak menikah saya berhenti bekerja di luar rumah dan memulai usaha makanan bersama suami. Terus terang kadang saya merasa otak saya kurang tantangan untuk berpikir (haha). Maka, saya akan mencoba menulis lagi supaya ilmu saya gak tumpul.

Please wait for more of my stories ahead!

Senin, 27 Oktober 2014

Radang Tenggorokan

Perhatian: Ini bukan postingan bersponsor meskipun ada nama merek yang saya sebutkan di dalamnya. Ciao!

Sebagai gadis yang agak rapuh (pret), saya cukup sering terkena penyakit radang tenggorokan. Kalau udara gak enak dan makan gak bener, udah dipastikan saya bakal langsung mengidap penyakit ini.

Gejala awal radang tenggorokan yang saya alami biasanya berupa sakit menelan, suhu tubuh naik (demam), dan diikuti sakit yang teramat sangat dasyat di tenggorokan (lebay). Pengennya minum terus untuk melancarkan tenggorokan yang entah kenapa rasanya seret, panas (kayak panas dalam), dan kalau menelan makanan sakit.

Penyakit ini bisa saya alami di mana-mana. Mulai dari pulau Jawa paling barat sampai pulau Jawa paling timur, saya kalau kena penyakit ya dia lagi, dia lagi! Di Bandung udah beberapa kali kena, terutama kalau pergantian musim dari hujan ke kemarau. Hari terakhir puasa saya kesiksa karena radangnya mulai menyerbu tenggorokan dan bikin bawaan pengen minum terus. Pas buka cepet-cepet banyak minum Adem Sari Chingu. Lumayan aman. Setelah lebaran, pas mau mulai KKN lagi, eh kena lagi. Akhirnya ke dokter deh, dikasih obat, hanya boleh makan yang rebus-kukus tanpa gorengan.

Pas saya lagi liburan ke Yogyakarta setahun lalu, penyakit ini nongol juga. Kesel banget, soalnya baru hari kedua di sana, eh, udah kena penyakit membetekan ini. Jadi gak enak kulineran, kan?! Akibatnya jadi gak nafsu makan dan demam. Minum air banyak-banyak gak bantu juga. Sepertinya karena udara di Yogya yang cenderung panas dan saya tinggalnya di hotel yang jelas ber-AC. Perpaduan udara panas dan kering kayaknya mempercepat penyakit ini hinggap.

Waktu saya lagi kuliah lapangan ke Alas Purwo, eh, penyakit ini nongol lagi. Saya gak nyadar kalau mau kena radang karena cuaca di Jawa Timur kan memang panas sekali. Jadi saya kira cuma efek kepanasan jadi gak enak tenggorokan. Saya juga males makan terus. Dikasih ayam atau daging gak mau, makanan saya seringnya gak habis dan cuma mau makan yang kuah-kuah, buah semangka, atau paling telur. Itu pun telurnya hanya ada yang bumbu pedes. Akibatnya radang saya makin parah. Di malam terakhir saya tepar juga, demam di tenda sampe Lisna (temen sekelompok) manggil temen yang tugas medis dan langsung dikompres sama dia. Demamnya mereda, eh, selama perjalanan pulang radangnya yang menjadi. Sepanjang jalan kenangan saya bersahabat setia dengan larutan penyegar dan adem sari, juga FG Troches (obat tenggorokan hisap, mirip permen POLO). Tapi tetep aja tenggorokan kerasa gak enak. Sampai Bandung saya langsung batuk pilek meskipun besoknya ada acara nikahan kakak saya. Perpaduan radang tenggorokan, pilek, dan kecapekan sukses membuat saya tumbang.

Dipikir-pikir, ini penyakit emang selalu muncul kalau cuaca lagi panas dan kering, kondisi tubuh gak fit, dan pola makan gak karuan. Setelah sakit yang terakhir (habis lebaran) dan saya ke dokter, baru saya tahu, ternyata penyakit ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Makanya timbul radang akibat infeksi. Akibatnya? Jelas demam.

Saya tanya ke dokter, karena saya penasaran kok sering banget kena radang kalau udara panas dikit, gimana cara ngehindarin? Kata dokter banyak minum, makan yang bener, kalau udara mulai gak bagus langsung makan FG Troches.

Lah, saya kan selalu makan FG Troches kalau udah kerasa radang, tapi kok gak ngaruh ya? Kata dokternya lagi FG Troches hanya berfungsi untuk pencegahan, kalau udah kena radang dia gak akan berfungsi dan tetap harus ke dokter untuk minta resep antibiotik dan vitamin.

Ooooooh jadi itu sebabnya... Jadiiiiii selama iniiii?! #eaaa

Minggu, 21 September 2014

Sensasi Ujian Ketok

Ujian ketok? Apaan, tuh?

Mahasiswa di jurusan Pendidikan Biologi UPI pasti sudah gak asing dengan yang namanya ujian ketok. Beberapa mata kuliah terutama yang ada kegiatan praktikumnya biasanya menggunakan metode ujian ketok untuk evaluasi.

Ujian ketok adalah metode ujian yang mengharuskan mahasiswa untuk menjawab soal dalam waktu yang ditentukan. Biasanya waktunya 1-1,5 menit untuk setiap soal yang akan ditandai dengan bunyi 'ketokan' untuk setiap segmennya. Yang membuat ujian ini berbeda sensasinya adalah ketokan tadi juga menandai perpindahan mahasiswa dari satu soal ke soal lainnya.

Bingung?

Oke, kita ibaratkan ada 20 meja di dalam satu ruangan. Di setiap meja akan diletakkan satu buah soal yang biasanya lengkap dengan objek atau spesimen yang harus diamati sebagai patokan soal tersebut. Soal harus dijawab dalam waktu yang ditentukan. Nah, kalau bunyi 'ketokan' sudah terdengar (yang mana bisa menimbulkan serangan jantung ringan bagi yang kagetan) tandanya waktu habis dan kita harus pindah ke soal di meja sebelahnya (yang nomornya lebih besar). Kalau kita belum selesai mengerjakan soal? Ya tetep aja harus pindah! Soalnya ada teman lain di sebelah kita yang harus mengerjakan soal nomor itu. Akibatnya, kalau kelamaan mikir justru kita gak akan bisa menyelesaikan soal-soal di ujian ketok dengan baik. Kita dituntut harus konsentrasi, teliti dan berpikir cepat. Syukur-syukur kalau bisa mengingat nomor dan soal yang belum kita jawab, artinya kelebihan waktu di soal berikutnya bisa kita gunakan untuk menjawab soal yang terlewat. Kalau lupa? Yah, relakan saja :)

Ujian ketok selalu membuat kami deg-degan dengan sendirinya. Pasalnya, objek yang menyertai soal bisa menjadi tombak dari pertanyaan yang macam-macam. Syukur-syukur kalau jawabannya bisa ditemukan dari ciri-ciri objek yang terlihat. Seperti misalnya diletakkan sekuntum bunga dan pertanyaannya adalah "Disebut apa jenis perbungaan pada bunga tersebut?". Nah, kita tinggal mengingat aja kan, bentuk perbungaan yang demikian disebut blablabla. Cukup gampang, kan? Kecuali kalau jenis-jenis perbungaannya kita lupa. Nah itu beda cerita.

Sekarang coba bayangkan kalau pertanyaannya adalah hapalan yang kebetulan tidak tercerminkan dari ciri-ciri yang terlihat di objek soal. Diletakkan awetan basah alga yang warnanya mungkin aja udah berubah dari ijo jadi kuning atau coklat karena pengawetan. Kita lupa, alga apaan ini?! Padahal yang ditanya pigmen yang memberikan warna pada si alga. Mampus aja, kan? Inilah yang namanya nasib. Nasib buruk lebih tepatnya. Bye-bye aja sama soal yang seperti itu. Boleh dijawab asal gak malu pas nanti diperiksa dan ternyata jawabannya ngaco berat sampe bikin asprak atau dosen ketawa. Siapa tau aja, kalau nasib lagi mujur, jawabannya bener. Iya kan?

Kenapa sih harus ujian ketok? Gak bisa ya pake metode ujian lain yang lebih normal? Ujian tertulis gitu?

Nah, ini karena ujian ketok dinilai efektif baik dalam waktu maupun persiapan terutama bagi ujian yang memerlukan objek di setiap soalnya. Bayangkan kalau setiap mahasiswa diberikan 30 soal ujian beserta spesimen-spesimennya satu setiap orang. Bisa penuh kali ya, meja ujiannya menampung 30 bunga-bungaan pas ujian Botani Phanerogamae? Belum lagi akan paciweuh bingung spesimen mana untuk soal yang mana, bagian mana yang ditandai untuk menjawab soal a, b, atau, c, dan sebagainya. Atau kalau setiap soal dosen harus mengelilingkan toples berisi makhluk invertebrata hanya untuk pertanyaan "Apa nama species hewan tersebut?" pada 35 mahasiswa di kelasnya. Abis waktu gak puguh, kan?

Dengan ujian ketok, dosen dan asprak bisa menghemat penyediaan objek-objek yang dibutuhkan di spot setiap soal dan hanya menyediakan 1-2 spesimen cadangan untuk objek segar yang mungkin rusak seperti bunga atau buah. Dengan ujian ketok, waktu 60 menit cukup untuk menguji satu kelas dengan 50 soal beranak a-b-c-d sekalipun (paling mahasiswanya yang menderita). Dengan ujian ketok, setiap mahasiswa akan melihat objek secara langsung, kegiatan praktikum juga menjadi berarti karena soal dan pertanyaan pasti pernah dijawab atau minimal gak jauh beda berdasarkan pengamatan langsung saat praktikum. Dengan ujian ketok, soal bisa bervariasi pertanyaannya dan yang pasti bukan hanya menguji hapalan tapi juga kemampuan observasi dan pengaplikasian teori-teori yang terkait.

Gak hanya ujian praktikum, kadang ujian teori juga dibuat dalam versi ujian ketok untuk menghemat kertas soal dan menghemat waktu ujian. Misalnya waktu normal untuk ujian teori tertulis dengan 60 soal pilihan berganda adalah 120 menit. Kalau pake ujian ketok, 60 menit aja cukup karena satu soal harus dijawab satu menit (misalnya) dan mahasiswa pasti beres serentak dalam waktu tersebut.

Selain itu kesempatan nyontek dalam ujian ini dibuat sekecil mungkin. Kalau ujian tertulis, nih, ada yang nyontek paling pengawasnya bilang, "Hey, kamu yang di sana! Jangan nyontek!" atau paling kejam ngambil kertas jawabannya dan membuat mahasiswa bersangkutan menangis tersedu-sedu. Kalau di ujian ketok, ada yang ketauan nyontek maka konsekuensinya adalah 'ketokan' dibunyikan saat itu juga. Artinya? Kalau ada yang nyontek pas waktu baru berjalan 10 detik ya udah, bakal ada ketokan yang memaksa semua mahasiswa berpindah soal. Maaaaan, baca soalnya aja belum, eh udah diketok! Dijamin si pencontek akan ditatap dengan penuh kebencian oleh seisi kelas yang dirugikan karena tindakannya.

Bagi yang belum terbiasa dengan ujian ketok, biasanya akan pontang-panting mengerjakan dengan muka pias, mata terbelalak saat melihat soal karena otak blank saking paniknya, tangan sulit menulis karena gemetaran, tersandung-sandung kursi saat pindah soal, salah arah pas pindah soal (harusnya ke kanan malah ke kiri, bikin tabrakan sama temen sebelahnya), daaaaan berakhir menyerahkan lembar jawaban yang penuh coretan dan tip-ex karena salah ngisi soal. Harusnya ngisi di nomor 7 eh malah ngisi di nomor 1! Akibatnya jawaban berantakan dan tambah panik lagi. Hahaha...

Yah, begitulah ujian ketok. Meskipun terkadang dirasa ribet dan menyusahkan (oleh mahasiswa) karena harus ngisi soal banyak dalam waktu sedikit dan tidak bisa berpikir lama, tapi sebenernya seru dan ngangenin. Bagi yang sudah tingkat atas (ehem) pasti sudah pernah merasakan semua versi dari ujian ketok ini. Dari yang di dalam lab dengan objek langsung, di dalam kelas dengan infokus, sampai di pantai atau hutan saat kuliah lapangan. Dari waktu satu menit untuk setiap soal yang mengakibatkan kepanikan karena waktunya dianggap kurang, sampai dua menit yang berakhir dengan kebengongan geje karena gak tau harus ngisi apa. Dari yang ketokannya berupa palu beneran, penghapus papan tulis yang diketok di meja dan menyebabkan kebul kapur, sampai pantat panci yang dipukul pake serokan buat masak.

Ah, ujian ketok. I'll miss you so much!

P.S.: Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pendeskripsian tentang ujian ketok ini. Aku hanyalah manusia biasa, Qaqa :3

Sabtu, 30 Agustus 2014

About KKN and its Issue

KKN berakhir dan banyak hal berlalu. Semester tujuh menghampiri dan akhir perkuliahan (insyaAllah) semakin dekat.

HOW IS KKN?

Banyak yang terjadi selama dua bulan skip ketemu sama anak-anak biologi. Terus terang pas mau mulai KKN rasanya males banget. Saat itu lagi sering-seringnya bareng sama anak-anak kelas dan angkatan karena selama empat bulan sebelumnya bareng-bareng ngurusin kulap ekum. Selain itu selama tiga tahun terakhir juga emang hampir gak pernah lebih dari dua minggu gak ketemu anak-anak sekelas karena selalu ikut semester padat pas libur semesteran. Jadi kebayang dong, gimana 'gamang'nya misah sama anak-anak biologi dan berbaur dengan 10 orang lainnya yang latar belakang, asal usul, tindak tanduk, perangai dan kebiasaannya masih wallahualam?

Dari awal KKN gak pernah muluk-muluk ngeharepin dapet temen KKN yang asyik-asyik. Asal cukup bisa diajak kerja sama dalam ngerjain proker, udah cukup. Apalagi lokasi KKN-nya masih di kelurahan tempat tinggal saya (atas request mama). Jadi pemikiran saya: kalau cekcok sama anak-anak KKN, tinggal kabur-kaburan ke rumah aja. Niatnya rada-rada gak bener nih. Hahahaha...

Yang lucu, dulu kan awalnya berat banget rasanya mau pisah sama anak-anak biologi. Eh, pas akhir KKN ternyata lebih berat pisah sama mereka. Kenapa? Seenggaknya pisah 2 bulan dari anak-anak biologi akan berujung pada pertemuan lagi karena masih ada kurang lebih 6 bulan - 1 tahun bareng-bareng kuliah. Apalagi biologinya sendiri kan bakal jadi almamater bersama nantinya. Pasti banyak kesempatan untuk ketemu di masa depan. Tapi setelah pisah sama temen KKN? Apa bakal ada yang jamin bisa ketemuan lagi sama mereka? Istilahnya kan kita dipertemukan hanya untuk memenuhi kewajiban mata kuliah 2 sks itu. Setelah itu? Pasti pada sibuk dengan kegiatan tingkat akhirnya. Gak banyak kesempatan untuk ketemu dan hangout kayak pas masih di posko dulu. Akhirnya malah jadi sedih banget pisah sama kelompok KKN saya :(

Well, semoga kita masih tetap bisa keep in touch setelah ini ya... Terima kasih untuk semua pengalamannya, KKN Cibeureum :)

THE ISSUE AFTER KKN

Beberapa temen saya banyak yang cinlok dengan teman KKN-nya. Termasuk dua temen deket yang punya pacar temen KKN-nya sendiri. Saya gimana kabarnya?

Saya masih sendiri aja, kok :)

Tolong, ya, dibacanya jangan dengan nada ngenes gitu. I'm happy with my condition, kok.

Buat yang suka menghina-hina saya karena selama kuliah gak punya pacar, misalnya, please mind your own business. You don't know my story. Saya menjomblo memang karena ini pilihan hidup saya. Menjalin hubungan itu kan sebuah pilihan dan pilihan saya adalah untuk tidak menjalin hubungan dengan berpacaran. Jadi, jangan sok tahu dengan mengomentari kejombloan saya pasti bikin saya menderita karena sesungguhnya, enggak, kok. Saya happy, 100% happy dengan pilihan saya.

Saya yakin seyakin-yakinnya, setelah ini banyak yang nanya (terutama di kampus), "Temen-temennya udah pada punya pacar. Kamu kapan?"

Well, please don't bother to ask me the question. I don't think I'll answer it properly.

Minggu, 10 Agustus 2014

About Writing

Ehm, kembali dengan kalimat...

UDAH LAMA YA, GAK POSTING DI SINI?

Buahahaha...
Emang ini blog kok kesannya kayak jadi pelampiasan rasa bosan aja ya? Itu pun sewaktu-waktu *puk-puk blog*. 

Pengen ngomongin ah, penyebab saya sedikit banget nulis di blog itu kenapa. Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah karena.... *jengjeng* MALES NULIS!

Ih, ya amplop malesnyaaaa. Beneran lho, ini gak bohong *yee kenapa juga musti boong*

Entah kenapa akhir-akhir ini *baca: beberapa tahun ini* ga ada keinginan untuk nulis. Ide mah banyaaaaak banget. Sampe udah rencana dari sebelum kulap ekum, entar pas pulang pengen nulis tentang kulap ekum ah biar bisa jadi referensi buat adik kelas. Siapa tau manfaat. Hehe... Gaya, kan? Tapi oh tapi itu tulisan masih ngendog aja di dokumen laptop. Selesai setengahnya juga belum. Hadeuuuuh....

Jadi rindu masa-masa jadi active writer dulu. Pas jaman itu masih SMA gitu lah. Lagi seneng-senengnya nulis, apalagi di blog yang dulu. Fufufu... itu blog berisi curhatan dengan kealayan membabi buta yang rasanya polos banget hahaha... Dulu nulis mah nulis aja dengan gaya bahasa yang amburadul tapi ceritanya nyampe aja gitu hihihi... Dan postingannya udah lumayan banyak juga. Seminggu bisa beberapa kali ngepost dan sekalinya berhenti itu emang karena niatan pengen hiatus, bukan karena tiba-tiba buntu ide atau males nulis. Pada dasarnya ide itu gak pernah habis, toh kejadian kecil pun bisa jadi bahan tulisan dan kayaknya dulu sih emang gitu. Tapi itu dulu......

Udah gitu saya sering juga bikin fanfic. Fanfic-fanfic saya tokohnya pake idol-idol Korea macem SNSD sama Suju gitulah hahaha... Abis dulu kan masih ngefans banget sama Suju *Kyaaa Oppa Oppaaaaa* *ya sekarang juga sih, sama SNSD masih Suju enggak untungnya* Tapi itu fanfic lumayan juga ceritanya *muji diri sendiri*. Ada kok yang baca, malah dulu suka dapet komen sampe 50 lebih. Itu udah merupakan penghargaan banget buat saya haha secara penulis amatir, jadi ada pembaca yang ngakuin fanfic buatan saya bagus aja udah sueneng buanget :D Seminggu bisa posting 2 fanfic berupa oneshoot atau satu part serial gitu. Tapi itu dulu...... 

Dan lagi nulis fanfic yang diposting di internet itu ya amplooop ada aja ujiannya. Pertama pembaca yang gak komen. Muahaha alay banget ya nulis di blog pribadi gak dikomen aja gak apa-apa, giliran fanfic ya harus ada dong. Alibinya biar bisa ningkatin kualitas fanfic dengan komentar membangun padahal ya emang pengen aja dihargai oleh para pembaca yang budiman hehehe :D
Yang kedua adalah banyaknya orang yang copy-cat tulisan seenak udel. Ampun deh. Itu biasanya para ababil yang punya fanpage di FB dan seenaknya ngambil fanfic orang buat dipost. Dipostnya pun di status gitu, bukan di note. Jadinya kan gak ke-track kalau kita nyari di note karena dia emang nulis di status yang bisa ketimbun-timbun sama status baru. Ketauannya gimana dong? Ya pake google. Saya iseng aja masukin satu kalimat dari ff saya dan taraaaaaa muncul beberapa link ke FB padahal saya gak pernah post fanfic di FB. Bener aja deh banyak fanpage yang masukin fanfic saya tanpa nyantumin credit. Elah.... Setelah beberapa kali marahin para admin fanpage itu *yang berakhir dengan penyangkalan atau alasan berupa gak-tahu-siapa-yang-ngepos-fanficnya-mungkin-admin-lain-pret-ah* akhirnya saya resmi hiatus dari dunia perfanfican. Kreativitas ditiru dan dicuri itu periiiih jenderal. Tapi yang jadi bumerang adalah begitu saya hiatus dari dunia fanfic yaaa keaktifan saya menulis di dunia lain juga ikut berkurang huhuhu...

Kebiasaan nulis ini emang mulai meluntur setelah masuk kuliah. Entah karena perhatian tercurah pada tugas *pret* atau emang makin tua ide itu kayak makin susah keluar ya? Padahal fasilitas udah enak banget buat nulis. Laptop ada, internet juga ada. Tapi malesnya melebihi dulu pas masih blogging pake komputer konde dengan modem lelet atau pas pake laptop tapi internetannya fakir wifi di sekolah atau tempat les. Emang yang namanya kreativitas dan kemauan gak akan bisa dibeli sekalipun pake fasilitas sebagus apapun *terharu*.

Mungkin bener juga sok tau-sok tauan saya tentang menulis selama ini. Menurut saya ada beberapa halyang bikin aktivitas menulis saya jadi mampet. Ini sih berlaku buat saya aja yaa, gak menutup kemungkinan ada yang pengalaman menulisnya sama atau beda sama saya.

Pertama, nulis yang terlalu dipikirin dan direncanain. Kalau lagi punya ide nulis mendingan cepet-cepet ditulis aja deh, jangan banyak dipikirin ini ntarnya mau gimana atau isinya apa aja. Pokoknya harus spontan nulis dengan cepat, idenya keluarin aja semua. Gak boleh ditunda, karena biasanya pas ada ide ada passion juga jadi sebelum keduanya luntur cepet dituangin. Saya kalau nulis kayak gitu bisa lebih bagus hasilnya. Ntar belakangan baru dibaca lagi, terus diedit seperlunya. Kalau saya nulis kebanyakan mikir dan bikin konsepan dulu biasanya malah gak jadi hahahaha...

Udah gitu yang kedua pamalinya adalah ngasih tau orang lagi nulis apa. Misalnya kayak dulu, saya suka cerita ke temen yang sama-sama suka nulis fanfic, eh eh aku mau nulis cerita tentang ini lho dan gak lama di tengah-tengah penulisan itu fanfic mentok. Mentok di ide dan kemauan. Entah ya sugesti atau enggak tapi yang pasti sering banget kejadian kayak gini. Terus kalau cerita dibaca orang sebelum beres ditulis juga biasanya gak selesai. Aneh emang.

Nah yang ketiga, tulisan yang ditulis terus gak selesai dan didiemin lamaaaaaa banget. Ini bisa jadi dua nih, pas dibaca lagi jadi bikin tertarik untuk ngelanjutin dan berhasil dilanjutin atau tertarik untuk ngelanjutin dan berakhir ngenes karena lupa, ide awalnya apaan ya? Ahahaha dudul emang...

Anyway, saya sih berdoa semoga ide, kemauan, dan keinginan saya untuk menulis segera balik lagi. Belakangan nyoba-nyoba nulis fanfic lagi tapi hhhh.... *menghela napas ceritanya* ya sudahlah, biar waktu yang menjawab kapan saya bisa kembali aktif seperti dulu. Semoga dimudahkan oleh Allah untuk meneruskan hobi saya yang satu itu. Aamiin...

Rabu, 07 Mei 2014

D-17 General Ecology Field Trip to Alas Purwo National Park

Gak kerasa aja, semester 6 udah hampir beres. Segala keripuhan di semester ini kayaknya ketutup sama fakta bahwa kuliah lapangan ekum tinggal 17 hari lagi. Padahal masih ada laporan, revisi makalah, proposal skripsi, dan tugas-tugas lain yang menanti. Tapi dengan jujur saya katakan bahwa... ekum sangat menguras perhatian, emosi, dan finansial.

Selamat datang akhir semester 6. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.


Minggu, 04 Mei 2014

Resep Pancake Super Gampang

Hai, faaaaans~~
Selamat berhari Minggu ;)

Kali ini pengen share resep pancake, nih...
Beberapa bulan yang lalu pernah pengen banget makan pancake. Karena kalau beli kan mahal ya kakak, akhirnya saya pengen nyoba bikin sendiri aja. Setelah searching 7 hari 7 malam, dapetlah resep pancake yang kayaknya gampang banget buat dicoba. Apalagi takarannya gak pake gram-graman tapi pake cup! Untuk orang pemales kayak saya hal ini amat menyenangkan :D

Resep ini didapet dari blognya mbak Erlia (yang saya belum kenal juga sih sebenernya muahahaha) dan saya salin dengan beberapa tips di dalamnya.

Anyway, ini resep plain pancake yang enak dan gampang banget. Bahan-bahannya biasanya ada di rumah. Saya aja pas spontan mau bikin dan cek bahan ternyata ada semua :D Untuk seresep biayanya terhitung gak mahal. Pake telurnya pun cuma satu! Gak perlu mixer, blender, ataupun oven. Cuma butuh mangkuk, baskom, whisk (pengocok telur), wajan datar, laddle, spatula dan kesabaran. Dijamin pasti bisa bikin walau baru pertama kali. Selamat mencoba yaa...

Resep Pancake

Alat:
- Baskom
- Mangkuk
- Whisk
- Wajan datar
- Laddle (sendok sup)
- Spatula
- Timbangan
- Gelas ukur (udah kaya mau praktikum aje -_-)
atau
- Measuring spoons
- Measuring cups (lebih gampang pake ini)

Bahan:
1 cup terigu serbaguna (1 cup setara dengan 140 gram, tepung yang saya pake biasanya segitiga biru)
1 sdm gula halus
1 sdt baking powder
1/2 sdt baking soda
1/4 sdt garam
3/4 cup susu cair (3/4 cup setara dengan 180 ml)
2 sdm cuka (ini optional, bisa dipake atau enggak tapi saya biasanya gak pake karena pancakenya jadi asem kalau pake cuka. cuka sebenernya berfungsi untuk bikin pancakenya jadi fluffy gitu)
1 telur ukuran sedang - kocok lepas
2 sdm unsalted butter (mentega tawar) - lelehkan

Cara membuat:
1. Campur susu cair dan cuka dalam mangkuk kecil, diamkan 5 menit
2. Adonan kering: Campur terigu, gula, baking powder, baking soda, garam dalam mangkuk besar
3. Adonan cair: Campur telur dan butter yang udah dilelehkan, tuang ke campuran susu dan cuka
4. Tuang adonan cair ke adonan kering. Aduk (tanpa mixer) sampai rata
5.  Panaskan wajan datar dengan api sedang
6. Oles dengan sedikit butter/ minyak
7. Tuang adonan sebanyak 1/2-3/4 laddle (sendok sup) atau sesuai selera, tergantung ingin sebesar apa pancakenya. Tuangnya di satu titik ya, supaya adonannya nanti melebar sendiri ke samping membentuk lingkaran
8. Tunggu sampai muncul gelembung-gelembung/lubang-lubang di hampir seluruh permukaan pancake, balik pancake
9. Tunggu kira-kira 30 detik (gak pernah ngitung sih, tapi pake feeling aja muehehehe). Angkat pancake saat sudah matang
10. Jadi deh :D


TIPS!
1. Buat yang bingung harus pake mentega tawar macam apa (yang harganya rada mihil juga ya kakak) jangan khawatir! Saya biasa pake blueband dan hasilnya pun oke-oke aja kok :)
2. Mentega yang dioles di wajan gak harus banyak. Saya cuma pake sekali di awal dan setelahnya tiap mau nuang adonan gak pernah pake mentega lagi. Kalau kebanyakan pake mentega biasanya malah gosong.
3. Apinya jangan kebesaran! Kalau wajan udah berasep-asep lebih baik diemin dulu sampe agak dingin, baru mulai lagi. Kalau enggak, dijamin hasilnya gosong!
4. Kalau sekiranya adonan kekentelan, bisa ditambahin susu atau air. Kalau keenceran, tambahin aja terigunya. Ini nambahinnya pake feeling aja ya hehe... Semakin kentel adonan, pancakenya akan semakin tebel.
5. Kalau pengen sarapan pancake tapi gak yakin bikinnya sempet subuh-subuh, bisa banget loh adonannya dibikin malem. Tinggal ditutup pake plastic wrap dan dimasukin kulkas. Besok paginya diaduk-aduk biar adonannya rata lagi dan siap dibikin jadi pancake :D

Biasanya saya pake vla coklat makannya. Yang foto bawah itu ditambah oreo crumble :9
Vla coklatnya... bikinan mama. Muahahahahaha....
Untuk resep vla coklat monggo dicari di internet yaa *pemalas*. Kalau gak ada mama biasanya saya pake vla instan. Itupun enak kok :) Atau pake selai/susu kental manis. Eaaaa jadi ngiler... *tampar diri sendiri biar gak drooling*

Well, have a nice Sunday, fans!